Baca, ya!
Dan aku tunggu kritik dan saran yang membangun…
—
Lintar, Rio, Ozy, Ray, dan Zevana terpilih mewakili sekolah mereka dalam kompetisi musik yang diikuti oleh seluruh sekolah se-Provinsi DKI Jakarta. Mereka selalu berlatih tanpa melihat waktu dan tanpa mengenal lelah. Setiap pagi, saat istirahat, dan saat pulang sekolah mereka selalu berlatih. Tetapi, sejak saat itu, Rio tidak pernah memperhatikan Nova, kekasihnya lagi.
Dan aku tunggu kritik dan saran yang membangun…
—
Lintar, Rio, Ozy, Ray, dan Zevana terpilih mewakili sekolah mereka dalam kompetisi musik yang diikuti oleh seluruh sekolah se-Provinsi DKI Jakarta. Mereka selalu berlatih tanpa melihat waktu dan tanpa mengenal lelah. Setiap pagi, saat istirahat, dan saat pulang sekolah mereka selalu berlatih. Tetapi, sejak saat itu, Rio tidak pernah memperhatikan Nova, kekasihnya lagi.
Suatu hari, Nova mengikuti Lintar, Rio, Ozy, Ray, dan Zevana ke ruang
musik. Tetapi, tak satupun diantara mereka melihat Nova mengikuti
mereka. Lintar, Rio, Ozy, Ray, dan Zevana masuk ke ruang musik.
“Ri… Rio!” Nova berusaha mencegah Rio masuk ke ruang musik.
Tetapi, usaha Nova sia-sia. Rio tetap masuk ke ruang musik, tak mempedulikannya sekalipun.
“Ri… Rio!” Nova berusaha mencegah Rio masuk ke ruang musik.
Tetapi, usaha Nova sia-sia. Rio tetap masuk ke ruang musik, tak mempedulikannya sekalipun.
Di dalam ruang musik…
“Sekarang kita latihan, yuk!” seru Lintar.
“Semua sudah hafal lagunya, kan?” Rio bertanya.
“Sudah!” seru Ozy, Ray, dan Zevana bersamaan.
“Kalau Lintar?” tanya Rio.
“Sudah pastinya…” jawab Lintar.
“Sekarang kita latihan, yuk!” seru Lintar.
“Semua sudah hafal lagunya, kan?” Rio bertanya.
“Sudah!” seru Ozy, Ray, dan Zevana bersamaan.
“Kalau Lintar?” tanya Rio.
“Sudah pastinya…” jawab Lintar.
Lintar, Rio, Ozy, Ray, dan Zevana berlatih memainkan lagu untuk
kompetisi musik dengan alat musik masing-masing. Lintar dan Rio dengan
alat musik gitar, Ray dengan alat musik drum, dan Zevana dengan alat
musik bass. Sementara, Ozy menyanyi (vokalis). Dan yang lainnya juga
mengikuti Ozy menyanyi.
“Istirahat, yuk!” Ray mengelap keringatnya dengan saputangan.
“Istirahatnya berapa menit?” Lintar bertanya.
“Lima menit aja,” ujar Ray, “Mau nggak?”
“Oke!” seru Rio, Ozy, dan Zevana, “Lima menit dari sekarang!”
“Istirahatnya berapa menit?” Lintar bertanya.
“Lima menit aja,” ujar Ray, “Mau nggak?”
“Oke!” seru Rio, Ozy, dan Zevana, “Lima menit dari sekarang!”
“Teman-teman, aku keluar sebentar, ya! Mau mencari udara segar.” kata Lintar.
“Silahkan. Tetapi ingat, hanya lima menit.” kata Rio dengan mata melotot.
“Oke!” Lintar mengedipkan matanya.
“Silahkan. Tetapi ingat, hanya lima menit.” kata Rio dengan mata melotot.
“Oke!” Lintar mengedipkan matanya.
Lintar keluar ruang musik mencari udara segar. Ia melihat Nova duduk di lantai depan ruang musik. Ia menghampiri Nova.
“Lintar, kenapa ya… Sejak Rio latihan untuk kompetisi musik bersamamu dan teman-teman yang lain, sedikitpun Rio tidak memperhatikanku. Sebagai perempuan, aku kan sedih kalau tidak diperhatikan sedikitpun seperti itu.” Nova bercerita. Di wajahnya terpancar kesedihan yang begitu dalam.
“Rio berlatih untuk kompetisi musik itu. Rio pernah bilang, ia ingin memenangkan kompetisi musik itu. Karena itulah ia serius berlatih.” Lintar menjelaskan.
“Iya aku tahu. Tetapi, apa ia tidak bisa memperhatikanku sedikitpun?” Nova pun bertanya.
“Sudahlah. Setelah kompetisi musik selesai, Rio pasti memperhatikanmu lagi. Aku yakin itu,” Lintar berusaha menghibur Nova.
“Lintar, kenapa ya… Sejak Rio latihan untuk kompetisi musik bersamamu dan teman-teman yang lain, sedikitpun Rio tidak memperhatikanku. Sebagai perempuan, aku kan sedih kalau tidak diperhatikan sedikitpun seperti itu.” Nova bercerita. Di wajahnya terpancar kesedihan yang begitu dalam.
“Rio berlatih untuk kompetisi musik itu. Rio pernah bilang, ia ingin memenangkan kompetisi musik itu. Karena itulah ia serius berlatih.” Lintar menjelaskan.
“Iya aku tahu. Tetapi, apa ia tidak bisa memperhatikanku sedikitpun?” Nova pun bertanya.
“Sudahlah. Setelah kompetisi musik selesai, Rio pasti memperhatikanmu lagi. Aku yakin itu,” Lintar berusaha menghibur Nova.
Lintar melihat jam tangannya. Waktu istirahat lima menit sudah berlalu begitu saja. Ia terpaksa masuk lagi ke ruang musik.
“Maaf ya, aku harus latihan lagi. Nanti, waktu istirahat yang selanjutnya, aku pasti akan menghiburmu lagi,” Lintar meminta maaf.
“Lintar!” Nova memegang tangan Lintar. Berusaha mencegah Lintar masuk ke ruang musik.
“Maaf…” ternyata Lintar tetap masuk ke ruang musik.
“Maaf ya, aku harus latihan lagi. Nanti, waktu istirahat yang selanjutnya, aku pasti akan menghiburmu lagi,” Lintar meminta maaf.
“Lintar!” Nova memegang tangan Lintar. Berusaha mencegah Lintar masuk ke ruang musik.
“Maaf…” ternyata Lintar tetap masuk ke ruang musik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar